Waralaba, Usaha Alternatif Kala Krisis Oktober 24, 2008
Posted by marketingkita in Bisnis, ritel.Tags: aprindo, krisis ekonomi, ritel, ukm, waralaba
comments closed
Usaha waralaba diklaim sebagai sebagai satu-satunya alternatif usaha yang kebal terhadap gempuran krisis finansial dunia.
Menurut Ketua Dewan Penasehat Waralaba Indonesia (Wali) Amir Karamoy, hal ini sudah terbukti pada krisis 1998 silam dimana sektor ekonomi banyak yang runtuh, waralaba justru menjamur.
“Dalam krisis finansial global, investasi portofolio mudah tergoncang, Wali berharap waralaba seharusnya diperlakukan alternative investasi. Karena dengan saham yang sangat peka, kalau waralaba paling imun terhadap resesi,” katanya.
Ia menyampaikannya saat membuka Franchise & License Expo Indonesia di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (24/10/2008).
Menanamkan modal di waralaba juga terbukti menggiurkan jika dibandingkan menyimpan uang di deposito. Jika menyimpan uang di deposito bunganya sekitar 7-8%, maka return dari bisnis waralaba bisa mencapai 20%.
“Jadi bunga bank itu peanut (kacang) lah dibanding return waralaba, sampai 20%. Inilah peluangnya,” katanya.
Franchise & License Expo Indonesia kali ini menghadirkan 125 peluang usaha waralaba dan lisensi. Pameran yang digelar selama 3 hari mulai 24-26 Oktober 2008 ini menargetkan pengunjung hingga 1.500 orang.
Rupiah Kembali Melemah capai 10500 Oktober 24, 2008
Posted by marketingkita in Bisnis, Finansial.Tags: bank indonesia, dollar menguat, idr to usd, intervensi bi, kurs, kurs bca, mata uang, rupiah anjlok, rupiah melemah, tembus 10.000, valas
2 comments
Lagi lagi rupiah kita mendekati titik kritis, setelah beberapa hari di kisaran 9900- 10000an Jum’at tanggal 24 oktober ini di pasar spot mencapai 10200-10300 an bahkan di Kurs jual BCA sempat mencapai 10550 dan ditutup di 10450, banyak analis valas yang memprediksi melemahnya rupiah ini mungkin masih berlangsung beberapa saat kedepan dimana pasar keuangan yang panik di picu melemahnya sentimen di bursa saham dunia, hampir semua mata uang duniapun melemah terhadap dollar Amerika kecuali Yen Jepang yang lumayan menguat terhadap USD.
Aksi beli karena kepanikan ini semakin memicu para spekulan untuk mencari keuntungan. Sampai sejauh ini BI (Bank Indonesia) belum mengambil langkah kongkret untuk menjaga Rupiah di posisi aman, karena BI masih mengunggu perkembangan kondisi market regional dimana dampak yang sama juga di rasakan di banyak negara Asia lainnya
Banyak kalangan yang memprediksi kemungkinan Rupiah masih bisa melemah ke posisi 10700an, namun kalau sampai 11000 masih melihat faktor sentimen regional yang berkembang dan tentunya intervensi Bank Indonesia sebagai pemegang kebijakan moneter dan finansial.
Sebelumnya Rupiah sempat menguat setelah BI mengeluarkan kebijakan GWM (Giro Wajib Minimal), BI melonggarkan aturan GWM untuk melonggarkan likuiditas perbankan yang saat ini ketat, akibat menurunnya perolehan dana pihak ketiga (DPK) dari penabung. BI berusaha memicu perbankan untuk tetap melaksanakan fungsi intermediasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi dapat berjalan dengan baik.
Diperkirakan rupiah akan masih tertekan pasar dalam beberapa hari kedepan, sekalipun BI melalui berbagai instrumen menahan tekanan pasar terhadap rupiah,”
Mungkin ini momen untuk para eksportir dan produk lokal mengambil kesempatan di momen yang ada saat ini. Semoga Semua bisa lebih baik
Cina Bisa Bantu Atasi Krisis Oktober 21, 2008
Posted by marketingkita in Finansial.Tags: artikel, cadangan devisa, china, ekonomi, krisis ekonomi, krisis keuangan amerika, umum
comments closed
Pasar keuangan yang terhubung satu sama lain secara global kemudian menyebarkan krisis yang bermula di Amerika Serikat itu ke seluruh dunia.
Untuk mengatasi krisis, dengan ongkos paling murah, membutuhkan penyeimbangan ekonomi global.
Cina adalah sumber penting tabungan global dan jelas negara ini tidak terbebas dari krisis yang akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi melamban, meski pada akhirnya Cina akan mampu melewati persoalan ini.
Dengan cadangan devisa hampir mencapai 2 trilyun dolar, Cina adalah pihak yang tepat untuk menyelesaikan krisis keuangan di Barat. Cina juga bisa berfungsi sebagai mesin pertumbuhan karena mesin yang satunya, Amerika Serikat, nyaris berhenti.
Pemerintah di negara-negara Barat harus mendanai paket penyelamatan dengan dana dari Cina karena mengambil sumber dana dengan menaikkan pajak di saat-saat lesu seperti ini lebih baik dihindarkan.
Pinjaman dalam skala ini bisa menyebabkan kenaikan pajak di masa depan dan tingkat suku bunga yang lebih tinggi yang pada gilirannya bisa mengganggu pertumbuhan ekonomi.
Investasi langsung ke Barat
Dari pada menjual utang ke Cina dan negara-negara berkembang yang lain, negara-negara Barat bisa mengizinkan dana-dana asing diinvestasikan secara langsung ke pasar mereka.
Investasi komersial dari negara-negara berkembang akan jauh lebih cocok.
Pertanyaannya adalah apakah Cina dan negara-negara berkembang akan mengijinkan badan usaha mereka melakukan investasi secara bebas di luar negeri?
Mereka mungkin akan khawatir kehilangan kontrol modal yang akan membuat mereka lebih susah mengaitkan mata uang jika modal bergerak bebas.
Tapi dengan melakukan rekapitalisasi di Barat, Cina dan negara-negara berkembang bisa menjaga kelangsungan pasar ekspor dengan membantu negara-negara maju mengendalikan krisis supaya tidak berubah menjadi resesi, atau bahkan depresi.
Pengetatan oleh para konsumen di Barat masih dibutuhkan dan pasti akan terjadi tapi gerakan penghematan jangka panjang bisa dihindarkan.
Cina dan negara-negara lain dengan pertumbuhan ekonomi yang mengesankan berperan menyebabkan krisis dan saat ini terkena dampak krisis. Ini terlihat dengan penurunan indeks di pasar saham dan menurunnya sektor ekspor.
Tapi mereka juga bisa membantu mengatasi krisis ini.
Penulis: Linda Yueh adalah pengajar ekonomi di St Edmund Hall, University of Oxford. Dia juga dosen di London School of Economics and Political Science (LSE).

