Pelajaran Anti Korupsi Di Sekolah Oktober 16, 2008
Posted by marketingkita in Nasional.Tags: anti korupsi, artikel, ekonomi, korupsi, koruptor, KPK, kurikulum, pelajar, pendidikan, sejak dini, sekolah, terkorup, transparan
trackback
Sebagian dari Anda, akan bersikap pesimis. Dan, Anda tidak sendirian dalam hal ini.
Tetapi terlepas dari sikap pesimistis semacam ini, Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK, justru menyiapkan program pendidikan anti korupsi untuk para siswa di sekolah menengah dan dasar.
Saat ini, KPK telah memiliki materi pelajaran antikorupsi. Seorang staf yang bertanggungjawab menangani program pendidikan antikorupsi, Dhedy Adi Nugroho memperlihatkan kepada saya sampel isi pelajaran yang dimaksudkan.
Ada beberapa buku yang bersampul warna-warni yang dihiasi gambar kartun segala. Isinya disesuaikan dengan tingkat pendidikan sang siswa, kata Dhedy.
Isi naskah buku-buku itu, dikerjakan para staf KPK dan tim ahli, yang melibatkan pula para guru dari beberapa sekolah menengah dan dasar di Jakarta.
Program ini pernah diuji coba di beberapa kota, dan sekarang tengah dimatangkan.
Disisipkan
Pogram antikorupsi di sekolah ini akan nantinya tidak akan menjadi mata pelajaran tersendiri?, tapi hanya akan disisipkan ke kurikulum yang ada, kata
Dhedy Adi Nugroho.
![]() |
|
| KPK berniat mengembangkan budaya menolak korupsi |
Belum ada kerjasama yang jelas KPK dengan pihak Depdiknas dalam program ini. Tetapi Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas Diah Hartanti mendukung penerapan program ini di sekolah-sekolah, walaupun nantinya bukan sebagai mata pelajaran tersendiri nantinya.
Dhedy Adi Nugroho menepis kekhawatiran program KPK ini nantinya mirip dengan program Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, atau P-4, yang pernah dipraktekkan di masa rezim Orde Baru. Salah-satu perbedaannya adalah program ini tidak diwajibkan masuk kurikulum seperti P-4 dulu.
Saat mengomentari gagasan KPK, Agus Setia, guru SMA Negeri 5 Bandung, menyatakan, dia juga khawatir program ini tidak berjalan, karena institusi sekolah juga tak terlepas dari budaya korupsi.
Tapi Pak Agus memberikan jalan keluar bahwa sekolah harus mulai membenahi diri.
Nada pesimis juga diutarakan seorang guru bernama Hafidz Supriadi, guru SMK 56 Jakarta. Dia khawatir bahwa budaya korupsi yang sudah mengakar di mana-mana.
‘Memberi kesempatan’
Atas tanggapan yang bernada pesimis ini, KPK mengaku terus memperbaiki program ini. Salah-satu langkah penting yang terus dievaluasi adalaha bagaimana mengukur keberhasilan program pendidikan anti korupsi ini, kata Dhedy Adi Nugroho.
![]() |
|
| Indonesia masuk peta praktik korupsi Transparency International |
Dhedy juga mengharap, program ini nantinya akan membuat para siswa akan siap mental dalam masyarakat yang korup.
Dia juga melihat program ini kela akan mencetak siswa yang tidak malu bersikap tidak melakukan korupsi, walaupun tidak populer.
Dhedy, dan orang-orang yang duduk di KPK, memang dituntut bersikap optimis dalam memerangi praktek korupsi, di tengah nada pesimis yang berkembang di masyarakat.
Bagi pengamat pendidikan Darmatingyas, KPK harus diberi kesempatan untuk menjalankan program ini.




Komentar»
No comments yet — be the first.