Spiritual
Sederhana dan Berlebihan
Oleh: A. Mustofa Bisri
Dari sisi lain, orang yang berlebihan, sulit dibayangkan bisa berlaku adil dan istiqamah. Dua hal yang menjadi kunci kebahagian dan kedamaian dunia akhirat.
=============================================
DOA KANG SUTO
Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat
mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak
selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.
Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di
rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok
orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan
bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.
Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme.
Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah
pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat.
Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.
Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corak
hidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini?
Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca
sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba
jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia,
stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi
saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus
diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di
kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?
Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati
keadaan. Sering ustad menasihati, “Hiasi dengan bacaan
Quran, biar rumahmu teduh.”
Para “Unyil” ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang
seperti kemarok terhadap agama.
Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul
Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia
ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak
tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan,
setapak demi setapak.
Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena,
biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya,
“Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak
diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma
tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita
tak sia-sia.”
Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai.
Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang
Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa
menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, ‘ain itu tidak
ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.
“Ain, Pak Suto,” kata Ustad Bentong bin H. Sabit.
“Ngain,” kata Kang Suto.
“Ya kaga bisa nyang begini mah,” pikir ustad.
Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang
runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru
ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto
diajarinya baca Al-Fatihah.
“Al-kham-du …,” tuntun guru barunya.
“Al-kam-ndu …,” Kang Suto menirukan. Gurunya bilang,
“Salah.”
“Alkhamdulillah …,” panjang sekalian, pikir gurunya itu.
“Lha kam ndu lilah …,” Guru itu menarik napas. Dia merasa
wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan.
Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah
arti Quran.
Kang Suto takut. “Mau belajar malah cari dosa,” gerutunya.
Ia tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah,
minta pandangan keagamaan saya.
“Begini Kang,” akhirnya saya menjawab. “Kalau ada ustad yang
bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh
buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan
Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan
mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka
semua, dan surga isinya cuma Arab melulu.”
Kang Suto mengangguk-angguk.
Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang
tak fasih berdoa. Beliau langsung ditegur Tuhan. “Biarkan,
Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan
lidahnya.”
“Sira guru nyong,” (kau guruku) katanya, gembira.
Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa.
Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang
Mahawelas dan Asih. Dan saya pun tak berkeberatan ia zikir,
“Arokmanirokim,” (Yang Pemurah, Pengasih).
Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami
salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia
membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.
“Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini.
Salahkah hamba, duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas
…”
Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya,
mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan
kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi …
—————
Mohammad Sobary,
=========================================================
KESALEHAN SOSIAL, KESALEHAN RITUAL
Ketika dalam Robohnya Surau Kami A.A. Navis memasukkan Haji
Saleh (yang yakin bakal masuk sorga itu) ke neraka,
sebenarnya ia sedang berbicara tentang suatu corak keagamaan
yang tak ia “restui”. Navis sedang menggugat kesalehan
ritual: jenis kesalehan yang ukurannya ditentukan
berdasarkan seberapa taat seseorang menjalankan salat lima
waktu, seberapa panjang zikir-zikir sesudah salat, dan
seberapa sering salat sunat ia lakukan.
Pendek kata, kesalehan itu ditentukan berdasarkan ukuran
serba legal formal sebagaimana kata ajaran. Dan biasanya,
untuk ini ada-ada saja orang yang merasa memiliki otoritas
buat menilai kredibilitas moral orang lain. Ia menjadi
semacam tim pemeriksa dan penilai keimanan orang lain.
Islam bukan agama individual. Ajaran yang dibawa Gusti
Kanjeng Nabi Muhammad itu, dari “atas” memang dirancang buat
rahmat bagi semesta alam. Orang yang paling saleh pun dengan
demikian tak punya hak monopoli atas agama itu.
Kita tak berhak menentukan tingkat kesalehan tetangga
sebelah. Dan tak satu pun di antara kita punya wewenang
“mengontrol” ibadah orang lain. Terutama bila hal itu
disertai sikap sinis dan cemooh, seperti Haji Saleh dalam
Robohnya Surau Kami itu.
Kita tahu Bang Navis orang Minang dan ia sedang bicara
tentang situasi kultural Minang. Tapi corak keagamaan itu
tak dengan sendirinya cuma milik orang Minang. Di Jawa pun,
pada saat yang sama, tiga puluhan tahun yang lalu, ketika
perpecahan ideologi kultural kuat mewarnai kehidupan
masyarakat, gejala serupa juga menonjol. Terjadinya
polarisasi santri-abangan, sebagaimana dirumuskan Clifford
Geertz, adalah produk zaman tersebut.
Namun juga tak berarti cuma milik zaman itu. Sekarang pun,
setelah tiga puluhan tahun yang berlalu, kecenderungan
agamis seperti itu toh masih juga terasa. Maka pada tahun
1980-an, ketika Gus Dur giat menganjurkan agar kita
istirahat sebentar dari kesibukan berdebat tentang batalnya
wudlu, untuk khusyuk bersama-sama memikirkan bagaimana
kemiskinan umat ditangani, ia seperti memberi jawaban atas
persoalan yang merunyamkan A.A. Navis tersebut.
Dengan kata lain, Gus Dur sedang berbicara tentang kesalehan
sosial: suatu bentuk kesalehan yang tak cuma ditandai oleh
rukuk dan sujud, melainkan juga oleh cucuran keringat dalam
praksis hidup keseharian kita.
Orang semacam Gus Dur dan mayoritas umat yang miskin tentu
saja juga memerlukan penyelamatan sorgawi seperti Haji Saleh
itu. Bedanya, Haji saleh mengesankan sikap hidup egoistis,
ingin mencari selamat sendiri, sedangkan Gus Dur tampak
altruis, ingin menikmati penyelamatan sorgawi bersama umat.
Kalau boleh, mungkin mau masuk sorga dengan sandal kulitnya
itu sekaligus.
Kecuali itu, Haji Saleh yakin bahwa sorga bisa digapai
dengan kesalehan ritual. Gus Dur melihat bahwa sorga justru
(setelah melihat konteks sosio-ekonomis umat yang
compang-camping) harus lebih diraih dengan kesalehan sosial.
Usahanya “menerobos” pintu Bank Summa untuk melakukan kerja
sama ekonomi dengan membuka BPR, misalnya, jelas mempertegas
wawasan keagamaannya.
Dalam kitab suci disebutkan bahwa sorga itu ada
tingkatan-tingkatannya. Tanpa menodai ajaran, saya sering
menafsirkan bahwa rasanya, sekarang pun saya sudah menikmati
sebagian kenyamanan sorga itu. Maka, tafsiran saya
selanjutnya, sorga bagi rakyat kecil, mayoritas umat yang
miskin tentu juga sederhana tingkatannya: yakni sekadar buat
pemenuhan kebutuhan jasmani (sandang, pangan, papan). Buat
kebutuhan rohani, (membaca salawat buat Kanjeng Nabi, maupun
segala puja dan puji kepada Allah) tentu dirasa sebagai
kebutuhan luks. Dus, belum merupakan kebutuhan primer.
Tafsiran serupa saya dengar pernah dibuat oleh seorang
pastur muda yang arif. Sehabis mengkhotbahi habis-habisan
para “domba” yang miskin, ia antar mereka pulang. Di tengah
nyala obor, di sepanjang jalan licin dan becek di daerah
Malang, terjadilah dialog antara sang pastur dan dan para
jemaahnya. Sang pastur kemudian menyimpulkan: saya ini
keliru. Kongkret, mereka butuh makan. Tapi saya beri mereka
cerita tentang sorga, cinta kasih, dan Tuhan Bapa …
Pemikiran keagamaan seperti ini ternyata juga bukan monopoli
kaum terpelajar, seperti Romo Pastur muda tadi. Di Desa
Ciater, Serpong, tempat saya melakukan penelitian tentang
hubungan antara agama dan tingkah laku ekonomi, saya temukan
seorang haji tua, pedagang kecil, yang beranggapan bahwa
kesalehan itu terletak dalam praksis, bukan dalam doa-doa.
Ketika saya tanyakan kepadanya, orang yang bagaimana yang
disebut sebagai orang saleh, Haji Asnen bin Haji Thalib itu
menjawab:
“Orang yang menyeimbangkan ushali dan usaha,” katanya.
Baginya, kedua hal itu harus diseimbangkan. Namun, jika ia
harus memilih, ia akan lebih memilih yang kedua dulu.
“Mengapa?” tanya saya.
“Karena kalau anak-anak lapar, kita harus memberikan jawab
kongkret: kasih makan. Dan makan itu kita peroleh dari
usaha.”
“Doa mah kaga enak dimakan,” katanya lagi.
Dengan kata lain, haji dari Betawi ini pun sedang bicara
bahwa dalam kondisi tertentu, kesalehan sosial terasa agak
lebih, dan karena itu perlu didahulukan dari kesalehan
ritual. Dengan begini, gugatan Navis kini terasa berdengung
kembali dan memperoleh lagi relevansinya.
Bukan haji kalau ia tak bisa memperkuat argumentasinya
dengan contoh kuat. Maka, Haji Asnen pun mengutip sebuah
Hadis.
Katanya, seorang sahabat pernah memuji kesalehan orang lain
di depan Kanjeng Nabi.
“Mengapa ia kau sebut sangat saleh?” tanya Gusti Kanjeng
Nabi Muhammad SAW.
“Soalnya, tiap saya masuk masjid ini dia sudah salat dengan
khusyuk dan tiap saya sudah pulang, dia masih saja khusyuk
berdoa.”
“Lho, lalu siapa yang memberinya makan dan minum?” tanya
Kanjeng Nabi lagi.
“Kakaknya,” sahut sahabat tersebut.
“Kakaknya itulah yang layak disebut saleh,” sahut Kanjeng
Nabi lebih lanjut. Sahabat itu diam. Sebuah pengertian baru
terbentuk dalam benaknya.
Ukuran kesalehan, dengan begitu, menjadi lebih jelas
diletakkan pada tindakan nyata. Kesalehan, jadinya, lalu
dilihat dampak kongkretnya dalam kehidupan sosial. Tentu
saja, hanya kesalehan sosial yang bisa diukur dengan cara
seperti itu.
Dalam agama, sebenarnya kedua corak kesalehan itu merupakan
wajah sebuah kemestian yang tak usah ditawar. Secara
normatif, keduanya haruslah merupakan bagian hidup tiap-tiap
hamba.
Kita, pendeknya, selalu diminta tampil ideal. Artinya,
secara ritual kita saleh, secara sosial pun kita mestinya
saleh juga.
Maka, betapa pun pahitnya harus diakui bahwa memang, silang
selisih antara mereka yang lebih menggarisbawahi kesalehan
ritual dengan mereka yang lebih memilih kesalehan sosial
masih bisa terjadi terus-menerus. Ini tak menjadi soal.
Sebab, bukankah silang selisih itu sendiri merupakan sebuah
dialog untuk mencapai takaran ideal itu juga?
—————
Mohammad Sobary
================================================
Gus Muhammad SAW
| Ditulis oleh Emha Ainun Nadjib | Rabu, 15 Oktober 2008 19:01 |
| Sudah terpecah dan terkeping sampai seberapa PKB, juga NU? Tidak. Kita ambil perspektif lain. Itu bukan bentrok, bukan perpecahan. Itu romantisme demokrasi. Itu dinamika ijtihad (perjuangan pemikiran). Itu produk wajar dari tradisi berpikir merdeka: salah satu prinsip yang membuat manusia bernama manusia.
Sebagaimana kalau jumlah pemeluk Islam ada sejuta, maka dimungkinkan ada sejuta aliran, dipersilahkan setiap orang memberlakukan tafsirnya masing-masing, dan satu-satunya yang berhak menagih pertanggung-jawaban adalah Tuhan. Silahkan ada golongan NU, Muhammadiyah, Persis, Persis NU, Persis Muhammadiyah, Muhammad NU, Sunni, Syiah, Sun’ah, Syinni, PKNU, Langitan, Bumian, Lautan, Gunungan, PKB Alwiyah, PKB Wahidiyah, PKB Muhaiminiyah, PKB Yenniyah… semakin banyak semakin demokratis dan menghibur. Tapi omong-omong sebenarnya PKB adalah satu-satunya parpol yang konstituennya paling berakar. Mungkin tidak tepat benar metaphor berikut ini: tapi ibarat hutan dan taman: PKB adalah upaya membangun hutan menjadi taman. Taman PKB berbasis di hutan yang melahirkan PKB, dengan akar dan sifat hutan yang masih kental. Golkar misalnya, adalah sebuah taman modern yang professional, sejumlah pohon diambil dari hutan dan tetap mendayagunakan kimia tanah hutan — tetapi ia sebuah taman teknokratis yang tidak memprimerkan hutan. Semua, PDIP, PPP, PKS, PAN, PD atau PBB, juga tidak steril hutan, tetapi PKB yang paling jelas berakar di hutan. Asal muasal sosio-kulturalnya, dialektika historisnya, masih menampakkan kekentalan perhubungan antara tamannya dengan hutannya. Sebagaimana PAN, PKS, PPP dan PBB “gagal” mewujudkan jargonnya Cak Nurkhalis Madjid “Islam Yes, Partai Islam No” – PKB-lah yang paling kental setting budaya santrinya. ‘Partai Islam No’ susah keluar dan berkembang dari lembaran AD-ARTnya, de fakto tetap saja “Partai Islam”. Meskipun Ifrith Sekjen Komunitas Jin Internasional direkrut masuk PKB, tetap saja yang terjadi bukan pluralisme, orang tetap menganggap Jendral Ifrith yang masuk NU supaya kalau meninggal ditahlili. Andaikan saja tradisi transformasi sosial berlaku cukup matang di Indonesia, kemudian atas dasar itu PKB dibangun kembali secara modern, maka dia susah ditandingi oleh kelompok politik yang manapun lainnya. Akan tetapi PKB semakin seru saja bergumul di dalam bungkusan ’sarung’ tradisional. Mungkin saja sarung itu ber-merk ‘Gus’. Belum tentu benar, tapi kalau mau menabung pembelajaran tentang PKB hari ini ada baiknya kita tengok sosiologi budaya ‘Gus’, bahkan mungkin ‘antropologi’ nya. Sopan santun Jawa menyebut Nabi Muhammad SAW dengan Kanjeng Nabi. Dalam bahasa Arab: Sayyid, semacam Sir. Sayyidina Muhammad. Beliau pernah bilang “Saya jangan disayyid-sayyidkan”. Maka masyarakat Muhammadiyah cenderung tidak memakai gelar Sayyidina. Panggil ngoko saja: Muhammad. Tetapi kalau kita menyebut pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dengan “Dahlan” saja, “Si Dahlan”, atau dulu ketika beliau masih sugeng kita menyapa beliau “Mau ke mana Lan?” — teman-teman Muhammadiyah banyak tak siap juga. Jadi idiom ‘Sayyidina’ itu mungkin berkonteks budaya sebagaimana kita memanggil “Pak”, “Mas”, “Oom”. Tentu saja “saya jangan disayyid-sayyidkan” itu tidak berhenti pada makna harafiah. Maksudnya Kanjeng Nabi kita jangan feodal, jangan menjunjung-junjung secara tidak rasional. Allah semata yang ‘Ali Akbar, yang maha tinggi dan maha agung. Sampai-sampai beliau tidak mau digambar wajahnya, khawatir jadi icon, branding, berhala, mitos. Di kalangan Jawa tradisi, dipakai kata “Kanjeng”, “Raden” atau “Den”. Den-nya masyarakat santri adalah “Gus”. Gus itu semacam Raden yang ”islami”. Di Jombang ada Gus Rur, Gus Nur, Gus Dur. Untuk saya ada gelar VIP: “Guk”, Guk Nun. Itu panggilan sesama teman penggembala kambing, kerbau, sapi, ngasak di sawah. Gus itu lebih tinggi dan lebih luas dibanding Den. Itu berlaku tak hanya secara tradisional. Semua wacana, persepsi dan analisis tentang wilayah perpolitikan tertentu di Indonesia selama 35 tahun ini terlalu meremehkan dahsyatnya kekuatan ‘Gus’. Sampai hari ini kita gagal ilmu, gagal obyektivitas, gagal kejujuran, gagal kerendah-hatian dan kejantanan di dalam memotret fenomena sangat factual itu dalam frame pemikiran demokrasi, egaliterianisme, independensi budaya dan politik. Itupun kalau bicara tentang Gus Dur, NU, PKB, Muhaimin Iskandar, Yeni Wahid, PKNU, Choirul Anam, Kiai (desa pesantren bernama) Langitan dst, tanpa setting sejarah yang ‘masuk lubuk hutan’ secara cukup memadai. Gus Dur NU PKB dll hanya kita jadikan anasir-anasir dari khayalan akademik kita yang asyik sendiri dengan huruf-huruf, yang karena para akademisi dan pengamat adalah penguasa negeri wacana, maka mereka mengumumkan kepada dunia dan dirinya sendiri bahwa NU itu begini Gus Dur itu begitu — kemudian tatkala besoknya terbukti tak ada eskalasi rasional dari wacana-wacana itu, kita diam-diam melupakannya. Mungkin kita tugasi khusus peneliti politik untuk memperhatikan hal-hal yang sederhana: kalau mau paham PKB, NU, Gus Dur: coba tengok pengetahuan tentang keluarga imigran Tebuireng, struktur dan eskalasi sejarah ‘klan-klan’ pribumi dan pendatang di Jombang, budaya Ludruk dan Gambus Misri, Hadlratus Syaikh, Mbah Wahid, Mbah Wahab, Masyumi, Muhammadiyah, Yai Kholil Bangkalan, pisang, kitab, cincin…. *** |

